Setelah pandemi usai, perusahaan eropa memilih menambah investasi di china

Perusahaan Eropa menambah investasi di China dan gerakkan rantai suplai ke darat sesudah rekondisi cepat dari wabah tahun kemarin jadikan China jadi sumber perkembangan dan keuntungan yang lebih bernilai.

Dikutip dari Bloomberg, menurut survey tahunan oleh Kamar Dagang Eropa yang di-launching Selasa, nyaris 60% perusahaan Eropa merencanakan untuk meluaskan operasi China mereka di tahun 2021, naik 51% dari tahun kemarin,

Sekitaran 1/2 dari 585 informan memberikan laporan margin keuntungan di China semakin tinggi dari rerata global mereka, naik dari 38% yang terdaftar di tahun awalnya. “Ketahanan pasar China memberinya pelindungan yang paling diperlukan untuk beberapa perusahaan Eropa di tengah-tengah badai wabah Covid-19,” kata laporan survey itu.

Limitasi cepat China pada virus dan kesuksesan meningkatkan kembali ekonominya yang sukses awalnya tahun kemarin menjadikan penggerak perkembangan global khusus di tahun 2020, memberinya penyelamat untuk beberapa perusahaan Eropa dari raksasa eksklusif Prancis LVMH SE sampai pembikin mobil Jerman BMW AG.

Sekitar 73% informan survey memberikan laporan keuntungan tahun kemarin, dengan 14% yang lain capai titik impas. Itu hampir serupa dengan beberapa tahun awalnya walau ada wabah, memperlihatkan berapa cepat pasar lokal kembali bangkit. Sekitaran 68% informan survey percaya diri dengan prospect usaha di bidang mereka sepanjang 2 tahun di depan, naik dari 48% tahun kemarin.

Berdasar laporan kamar dagang, usaha berkembang di China agar semakin pisahkan aktivitas mereka di negara tersebut dari penjuru dunia, untuk menghindar masalah rantai suplai karena kemelut geopolitik.
Disamping itu, seperempat dari perusahaan yang disurvey “memberikan dukungan” rantai suplai mereka dengan mengalihkan lajur produksi ke China atau berpindah ke penyuplai dengan produksi lokal. Cuman 9% perusahaan yang menjelaskan mereka sedang menimbang untuk mengalihkan investasi sekarang ini atau yang diperkirakan, tingkat paling rendah yang sempat terdaftar.

“Point intinya ialah meningkatkan rantai suplai sebanyak-banyaknya di sini, sepanjang kemungkinan, untuk menyiapkan apa yang diperlukan pasar di sini,” kata Charlotte Roule, anggota dewan kamar dagang.

Perusahaan ditempatkan pada teror pembelahan di antara China dan ekonomi lain, dengan beberapa yang tergantung pada import untuk elemen atau input penting yang bisa terusik oleh limitasi atau larangan oleh negara lain.

Sepertiga perusahaan menjelaskan jika tidak ada alternative yang pantas untuk beberapa perlengkapan atau elemen yang mereka import di luar negeri ke China, membuat mereka terserang masalah produksi. Sekitar 40% yang lain menjelaskan jika alternative apa saja semakin lebih mahal atau berkualitas lebih rendah.

Lingkungan politik untuk beberapa perusahaan Eropa di China jadi lebih susah di tahun 2021, dengan memboikot customer pada beberapa perusahaan seperti Hennes dan Mauritz AB di bulan Maret dan Beijing dan Brussels sama-sama jatuhkan ancaman atas dakwaan pelanggaran hak asasi manusia oleh China pada warga Uyghur di Xinjiang. Bahkan juga sebelumnya, lebih dari 40% informan dalam survey di bulan Februari memiliki pendapat jika lingkungan usaha di China sudah jadi lebih diplomatis dalam satu tahun paling akhir.

Beberapa perusahaan Eropa terus alami transfer tehnologi paksakan, walau dilarang oleh Undang-Undang Penanaman Modal Asing yang diterapkan China tahun kemarin. Sekitar 16% informan menjelaskan mereka mau tak mau mentransfer tehnologi untuk jaga akses pasar, tetap sama dari survey tahun kemarin.

Berdasar laporan itu, informan cemas jika dorongan China untuk kemandirian tehnologi akan bikin rugi usaha karena mempertingkat ongkos kepatuhan dan konsumen setia China bisa mempertingkat pemantauan mereka pada service asing atau bahkan juga berpindah ke penyuplai lokal.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *